Pernahkah kalian beripikir dan bertanya
tanya, Apakah Kuliah di Perguruan Tinggi Menjamin Kesuksesan dan
Jaminan dapat kerja atau uang?
 |
| gambar: mnn.com |
Tak ada yang salah
memang dengan berpikir bahwa kuliah menjamin kesuksesan atau kerja dan
pundi-pundi uang karena memang faktanya banyak orang sukses karena
kuliah. Namun saat ini banyak terjadi pro dan kontra mengenai kuliah dan
perguruan tinggi tak lagi menjamin hal tersebut.
Buktinya, lulusan perguruan
tinggi tiap tahun di dunia bertaburan dengan latar belakang jurusan yang
berbeda dan sedikit dari mereka yang bekerja dan sukses, namun tak
sedikit dari mereka pula yang hanya berdiam diri menganggur karena belum
mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.
Bukan hanya di Indonesia namun juga diseluruh dunia termasuk negeri
besar Amerika. Tiap tahun lulusan mereka dengan beragam universitas
ternama namun masih saja banyak pengangguran. Bahkan sekalinya mereka
mendapatkan pekerjaan ternyata tak lagi berhubungan dengan jurusan yang
ia pelajari di bangku kuliah.
Cerita horor pengangguran memang
termasuk menganggu perhatian akan kesuksesan pendidikan di dunia, namun
tak sepenuhnya karena diantara mereka banyak yang menjadi sukses dan
bekerja dibidangnya. Terlepas dari pembahasan keluhuran budi pekerti
mereka.
Sebuah kenyataan bahwa modern
ini orang kuliah dengan sadar atau tidak sadar kebanyakan adalah untuk
uang, memperoleh pekerjaan yang layak dan jauh lebih baik dari
keadaannya saat ini. Bahkan mungkin bagi mereka yang berkeceukupan
kuliah hanya sebagai formalitas.
Berikut Pro dan Kontra Kuliah di Perguruan Tinggi yang terjadi dewasa ini:
# Putus Kuliah untuk Kesempatan yang Lebih Baik?
Putus sekolah dan kuliah untuk mendirikan facebook, microsoft, apple adalah contoh nyata bagi mereka yang siap dan penuh konsekuensi dengan satu alasan kuat. Dropout
dari kuliah ternyata mampu membuat mereka sukses dan menjadi orang
dalam deretan terkaya di dunia dengan produk teknologi yang mereka
berikan bagi masyarakat di seluruh dunia.
Dalam
teknologi, sering ada waktu yang tepat untuk datangnya sebuah ide
besar, dan menunggu empat tahun untuk menyelesaikan pendidikan tinggi
dapat berarti kehilangan kesempatan-kesempatan tersebut, Itulah kata dari Mike Gibson, wakil presiden untuk hibah di Yayasan Thiel, yang menyediakan $ 100.000 hibah untuk pengusaha pemula untuk melewati kuliah dan mengejar impian mereka.
# Kuliah Mengurangi Inovasi
Perguruan tinggi juga dapat memperlambat inovasi, setidaknya dalam ilmu, kata Gibson. Dalam
sebuah makalah kerja 2008, Northwestern University oleh Profesor
manajemen Benjamin Jones menemukan bahwa usia dimana para ilmuwan
menemukan penemuan paten pertama mereka sudah naik sejak pergantian
abad terakhir, di usia 23-32 tahun.
Hal
tersebut termasuk loncatan usia yang besar terjadi. Karena semakin
banyak orang yang terjebak di sekolah perguruan tinggi dan lulus ketika
orang terdahulu akan memiliki "eureka!" saat di masa lalu. Dan
orang-orang tidak hanya bergeser produktivitasnya di kemudian hari
namun juga mereka mengurangi kontribusi kehidupan mereka secara
keseluruhan, studi menunjukkan hal itu.
# Kuliah Sarjana Sebagai jaminan Keselamatan
Tentu saja, kebanyakan orang yang pergi ke perguruan tinggi tidak ingin membuat Facebook berikutnya atau reinvent the wheel. Mereka ingin melakukan sesuatu yang menarik dan membawa pulang upah yang layak dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dan
tidak ada keraguan jalan paling pasti menuju penghasilan tetap adalah
untuk mendapatkan gelar empat tahun alias sarjana, penelitian
menunjukkan itu semua.
Menurut
Biro Sensus Amerika Serikat, pada tahun 2009, lulusan SMA mendapatkan
rata-rata upah $ 30.627 per tahun, sedangkan lulusan perguruan tinggi
mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi, rata-rata $ 56.665. Dan
sebuah studi 2010 dari Pusat Universitas Georgetown tentang Pendidikan
dan Tenaga Kerja menemukan bahwa 60 persen dari semua pekerjaan di
negara ini diperlukan pendidikan tinggi.
Tak
jauh berbeda dengan kenyataan lulusan di Indonesia, Latar belakang
sarjana menjadi prioritas utama dibandingkan lulusan SMA. Namun mereka
yang memiliki gelar S1 pun harus bersaing dengan universitas terbaik dan
favorit.
# Kuliah untuk Lebih Banyak Dapat Pekerjaan
Pekerjaan
yang diberikan perusahaan kebanyakan diperlukan dari lulusan perguruan
tinggi meskipun masih banyak yang juga membutuhkan lulusan sekolah
tinggi SMA. Hal tersebut terjadi diseluruh dunia saat ini.
Penelitian
Georgetown meramalkan bahwa pada tahun 2018, 22 juta lapangan kerja
baru akan tercipta yang memerlukan gelar sarjana, tapi setidaknya 3 juta
orang lebih sedikit akan mendapatkan ijazah perguruan tinggi atau
gelar sarjana. Semua pemegang gelar sarjana akan memiliki lebih banyak kesempatan daripada mereka yang lulusan SMA.
# Kuliah Mengeruk Utang
Di sisi negatif, semua pendidikan tinggi tentu memerlukan biaya dalam perkuliahnnya. Pergi ke perguruan tinggi seringkali berarti membuat lubang utang bagi kebanyakan orang, sadar atau tidak disadari.
Orangtua
perlu membiayai anaknya untuk masuk perguruan tinggi hingga
kelulusannya selama empat tahun. mending empat tahun gimana dengan yang
lebih dari empat tahun? Karena kekurangan biaya menjadi sebuah kebiasaan
dan kebutuhan demi pendidikan anak yang lebih baik dan memperoleh
pekerjaan yang jauh lebih layak daripada orangtuanya.
Di
Amerika pun baru-baru ini terungkap bahwa, jumlah pinjaman seluruh
mahasiswanya mencapai 1 triliun dollar Amerika yang jauh dari ambang
batas," kata Gibson dari LiveScience. Bahkan pinjaman mahasiswa AS
telah melebihi utang kartu kredit."
Dalam
sebuah survei Pew Internet 2012 yang diwawancarai sekitar 1.000 ahli
pendidikan tinggi, 75 persen responden mengatakan pendidikan tinggi
terlalu mahal bagi kebanyakan orang untuk membayarnya.
Bagaimana
dengan pendidikan online? Saat ini pendidikan tinggi dapat diperoleh
secara online dengan harga yang jauh lebih murah dari kuliah offline.
Penyedia kursus online besar seperti Coursera dan Udacity sekarang
menawarkan ratusan kelas yang dapat diambil secara gratis dengan
mahasiswa yang belajar di rumah dengan memakai celana olahraga
sekalipun. Beberapa
percaya kelas-kelas ini akan menggantikan banyak persyaratan di
perguruan tinggi dua tahun dan empat tahun perkuliahanl. Dalam studi Pew, sekitar 60 persen percaya bahwa kursus secara online akan mengubah pendidikan tinggi pada tahun 2020.
Namun, tantangan dari kuliah online
adalah adanya sarana internet yang tersambung langsung untuk
pembelajaran kuliah online. bagaimana dengan Indonesia, rasanya saat ini
masih belum populer di negeri 200 juta lebih penduduk ini.
# Tak Ada Penyesalan?
Namun, sangat sedikit orang yang telah mendapatkan gelar empat tahun alias sarjana menyesal, berdasarkan penelitian Pew.
"Pada umumnya, orang-orang yang telah pergi ke perguruan tinggi berpikir itu adalah pengalaman yang berharga," kata Rainie.
Namun bagaimana kasusnya dengan Mahasiswa Salah Masuk Jurusan?
hem.... semoga bagi yang baru masuk kuliah dipertimbangkan lagi jurusan
yang akan ia pilih, meskipun pada dasarnya kesuksesan bukan dari
jurusan atau perguruan tinggi yang ia pilih. Semua terletak dari diri
sendiri dan skill yang ia miliki.
Thanks for reading:
Kuliah Menjamin Kesuksesan dan Jaminan dapat kerja atau uang?