1. Mohammad Baedowy
Ia tidak menyangka hidupnya akan berbalik 180 derajat, justru karena
limbah sampah. Baedowy yang bekas pegawai merasakan betul bekerja hingga
tengah malam. Hidupnya berbalik ketika nekat memutuskan keluar dari
kantornya. Dia yang saat itu 25 tahun, nekat hengkang dan memulai
berbagai bisnis guna bertahan hidup.
Dia kemudian berbisnis botol plastik bekas. Modal awalnya hanya 50 juta,
sebagian milik mitra bisnisnya. Dia mendirikan pabrik pengolahan sampah
plastik, namun mulai ditinggalkan sang mitra. Mereka sama- sama belum
berpengalaman berbisnis. Dilain hal mesin penghancur plastiknya sering
sekali rusak. Jadilah Badowy berniat menjual bisnisnya. Tak kunjung
laku, dia memutuskan mengutak- atik mesinnya sendiri. Hasilnya dia malah
menjadi ahli, berhasil membuat berbagai mesin pengolah sampah.
Bisnisnya maju pasat bahkan mampu membeli tanah senilai satu miliar. Ia
kemudian mendirikan CV. Majestic Group, perusahaan pengolahan sampah
bermitra sekaligus menjual mesin daur ulang. Dia tiap bulannya harus
mengirimkan dua mesin ke China, sedangkan untuk olahan plastik sekitar
dua kontainer tiap bulan.
2. John Peter
Pada saat itu ia baru saja naik ke kelas 2 SMP, terpaksa keluar dari
rumah berbekal seadanya. Dia hidup di tengah kota Cirebon, saat itu
berumur 18 tahun. Dia selalu membawa sebuah koper kamanapun
langkahnya berjalan. Sebuah keluarga TiongHoa kemudian mengangkatnya,
memberikan rumah dan makan hingga lepas sekolah menangah. Di keluarga
tersebut, ia belajar berbisnis secara otodidak melalui pengalaman.
Selepas sekolah, ia berniat melanjutkan ke ITB, dan diterima di jurusan
ilmu kimia.
Ia harus bekerja memastikan pendidikannya tetap berjalan. Ditengah
perjalanan, ia yang juga aktif kegiatan pelayanan di geraja menemukan
sesuatu. Dia sadar bahwa pemulung punya penghasilan yang menjanjikan.
Berbekal tekat, meski buta akan menejeman bisnis, dirinya memulai bisnis
sampah menjualnya ke pengepul. Waktu berlalu, ia telah memiliki
beberapa pemulung dibawah naungannya, meraka bekerja sama.
Yang menarik John bahkan rela tinggal satu atap, berasama mencari uang
ditumpukan sampah. Hingga bisnis tersebut mulai tumbuh dimana sebuah
mesin pengolah telah terbeli. Dia membeli mesin karena tertarik melihat
harga biji plastik lebih mahal. Dimana harga biji plastik bisa senilai
Rp.8.500 per- kg sedangkan berbentuk mentah hanya Rp.400. Dia juga tak
lagi menjual sampahnya ke bandar lain. Dari 18 juta per- bulan, bisnis
itu tumbuh senilai Rp.800 juta- Rp.1 miliar per- bulan.
3. Indra "Novint" Noviansyah
Lajang 24 tahun ini dikenal akan keuletannya untuk berbisnis. Terbukti
dia mampu mendirikan bisnis mandiri, yaitu bisnis sampah plastik.
Novint, putra asli Pontianak yang merantau hingga ke kota Jakarta.
Disana selain kuliah dirinya bermitra membangun bisnis sampah plastik.
Berbekal semangat ia tertarik memboyong bisnis ini hingga ke Pontianak.
Melalui jalan kapal laut, dibawalah mesin berat seharga ratusan juta itu
dari Jakarta ke Pontianak.
Guna meningkatkan kesadaran akan nilai sampah plastik, dia bekerja sama
membangun bank sampah. Dia menempatkan tong- tong sampah khusus,
berkeliling memberi suluhan serta membeli sampah mereka. Novint tidak
hanya bekerja sama dengan masyarakat umum, tetapi hingga level pelajar.
Dia membeli sampah plastik seharga pasaran lalu uang tersebut dimasukan
kas OSIS.
4. Iskandar
Ide awalnya ketika dirinya mengikuti pameran dalam rangka Hari
Lingkungan Hidup Nasional di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tepatnya pada
Juli 2008, ia berkeliling menikmati produk- produk daur ulang sampah
plastik. Dia terpikir kenapa semua
hasil produknya selalu berbentuk konvensional seperti taplak, tas
plastik, hingga produk lain yang sudah sering dilihat. Iskandar yang pernah menggeluti bisnis tanaman hias terbersit
dipikirannya untuk membuat sesuatu yang berbeda. Idenya adalah
menciptakan vas bunga dengan plasti hasil daur ulang.
Dia mencoba berbagai cara. Yang terakhir, Iskandar menggunakan sebuah
wajan guna memasak sampah- sampah plastik tersebut. Setelah matang, ia
akan menuangkannya ke sebuah cetakan. Dari sinilah sebuah vas unik
berbahan plastik tercipta. Ia menjual produknya masih di kawasan
Kalimantan Timur. Tiap vasnya diberi harga bekisar Rp.25.000 per- buah,
dan sudah bermotif. Dia juga menemukan Marmo, batu tiruan yang bisa
digunakan di lantai atau dinding.
Marmo dijualnya seharga 140.000 per- meter persegi. Dia mengaku membeli bahan baku sekitar
Rp.500 per- kilogram, sedangkan satu vas beratnya 1 kg. Artinya, ia
mampu mengantongi laba bersih Rp.24.500 per- kg plastik.
5. FX Harso Susanto
Bisnisnya berbicara tentang kerajinan tangan. Dia tidak hanya mengolah
sampah, tetapi merubahnya menjadi aneka furnitur dan aksesoris. Namanya
FX Harso Susanto, seorang seniman asal Yogyakarta yang merubah cara
pandang tentang bisnis daur ulang. Cara pembuatan produknya mudah, ia
cukup mengumpulkan koran bekas kemudian mencampurnya dengan lem kanji.
Dia memulai dengan memilin- milin kertas itu kemudian mulai membentuk
betuknya.
Furnitur itu dibuat 100% berbahan kertas koran. Kendati berbahan kertas,
furnitur itu bisa menahan beban hingga 200 kilogram. Bicara harga
produk tersebut dibandrol Rp.8.000- Rp.300.000. Pemasarannya melalui
berbagai cara, terutama media online di berbagai situs jejaring sosial.
Untuk sekarang ia mengaku mampu membuat 50 jenis. "Pernah saat mengikuti
pameran di Jakarta, bapak President SBY mencoba menduduki kursi
buatannya," imbuh pria gondrong ini
Sumber
Thanks for reading:
5 Pengusaha Sukses Berbisnis Limbah Sampah