Profil Pengusaha Sukses: Syammahfuz Chazali
Ternyata kotoran sapi bisa sangat berharga seharga emas. Syammahfuz
Chazali, sang pesulap yang merubah kotoran yang menjinjikan menjadi
kuningnya emas. Kotoran sapi itu sumber rupiah. Syam begitu dia akrab
dipanggil, di benaknya, ada secercah harapan tentang fakta ilmiah
kotoran sapi. Dari bentuknya yang aneh, baunya yang tidak enak, ternyata
kandungan ilmiahnya baik untuk gerabah dan keramik. Dia terus berusaha
megangkat harkat martabat limbah yang mengganggu lingkungan itu.
Hasil riset Syam mengaggumkan. Dia berhasil membuktikan bahwa dengan
tlethong (kotoran sapi/ bahasa Jawa) gerabah bisa kuat. Sebagai bahan
campuran tlethong bisa membuat gerabah kuat, warnya cemerlang, dan
beratnya bisa lebih ringan hingga dua kilogram. Dia menyebut idenya
datan ketika ia buang hajat. Tiba- tiba saja ia terbersit untuk
mencampur isi perut itu dalam usaha keramiknya. Pria kelahiran Medan, 5
November 1984 ini, teringat kenyataan bahwa tanah yang kering dan tandus
bisa menjadi bagus setelah dicampur dengan kotoran sapi.
Logika yang sedikit nyeleneh tapi tetap dicobanya. "Renungan kloset" itu
terus menggugah rasa ingin tahunya sehingga ia terus mencari referensi.
Tentang per- tlethong -an melalui buku- buku, teman- temannya dan juga
internet, dari situ dibuatlah penelitian sederhananya. Syam juga
menyimpulkan selain bertekstur lembut dan berserat, kotoran sapi juga
mengandung Silikat (semacam bahan perekat) hingga hampir 10%. Dari
sisnilah Syam mengemukakan gagasannya menjadikan tlethong sapi sebagai
bahan campuran pembuatan gerabah.
Penelitian bisnis
Sebulan setelah riset pribadinya, Syam menggandeng teman kuliahnya
sejumlah empat orang untuk meneliti lebih lanjut hipotesanya. Syam
kemudian menamai tim kecilnya ini dengan FAERUMNESIA. Nama yang berasal
dari istilah peternakan yang berarti kotoran dari lambung sapi.
Maklumlah Syam memang seorang mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian,
Fakultas Pertanian UGM, sehingga tertarik dengan hal ini. Secara bisnis,
tim yang selanjutnya berkembang menjadi kelompok bisnis ini melihat
kotoran sapi belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik.
Menurut perkiraan mereka, dalam setahun peternakan di Indonesia bisa
menghasilkan kotoran sapi sekitar 6 juta ton dan hampir semuanya
terbuang sia-sia. Diajukanlah proposal itu untuk mengikuti pekan
kreatifitas mahasiswa, tim ini mengebut menyelesaikan proposal
penelitiannya. Dengan lugunya tim tersebut malah tanpa pikir panjang
memasang judul Kotoran Sapi begitu saja. Proposal itupun ditolak. Mereka
belajar bahwa pentingnya kemasan yang baik untuk ide- ide mereka.
Tanpa putus asa mereka kemudian memperbaiki proposal itu dan mengikutkan
proposalnya di lomba yang lain. Hasilnya pun tak mengecewakan, mereka
berhasil meraih juara satu dan yang menggembirakan lagi proposalnya
disetujui oleh DUE-Like Batch IV UGM. Mereka sukses mendapat kucuran
dana sebesar 3,5 juta untuk dana eksperimen lebih lanjut. Girangnya Syam
dan kawan-kawan, akhirnya hasil penelitiannya mendapat apresiasi juga
setelah sekian lama. Dibantu oleh para pengrajin gerabah setempat yaitu
Purwanto, mereka melakukan uji coba.
Mereka coba menentukan komposisi yang pas antara kotoran sapi dan tanah
liat agar hasilnya optimal. Tlethong- tlethong tersebut sebelumnya
sudah dicampur dengan bioactivator agar tidak gatal dan hilang bau
busuknya. Dengan bioactivator tersebut, tlethong akan berubah menjadi
humat yang memerlukan waktu satu bulan. Hasilnya sangat mengejutkan.
Bahan baku yang terdiri dari tanah liat kuning dan tlethong yang dibuat
gerabah menjadikan bobot gerabahnya lebih ringan 2 kilo jika
dibandingkan dengan menggunakan campuran tanah liat dan pasir.
Selain itu gerabah juga warnanya lebih cerah dan tidak mudah pecah saat
di bakar hingga 90 derajat celcius. Efek positif lain bahwa campurannya
mampu membantu ekosistem. Maksudnya pengerukan tanah liat jadi lebih
sedikit karena telah dicampur- campuran lain. Jika tanah liat terus
menerus dikeruk maka dikhawatirkan akan merusak lapisan subur tanah. Tim
Ferumnesia memang patut berbangga hati. Pasalnya mereka tak perlu
menunggu lulus kuliah untuk menghasilkan uang. Beberapa tawaran bisnis
pun bermunculan baik dari dalam negeri ataupun luar negeri.
Bisnis kotoran
Di dalam negeri ada pemesanan sekitar 1000 dekomposter rumah tangga
Universitas Tri Sakti. Dan yang dari luar negeri seperti pesanan humat
dari Brunei Darussalam sebesar 60 ton per- hari untuk membuat bahan baku
bangunan seperti batako. Karya Syam dan kawan- kawan memberi dua
manfaat besar bagi masyarakat. Pertama masalah limbah teratasi dan kedua
meningkatkan kualitas gerabah sekarang. Dia mematok harga sekitar 1000
rupiah per kilogram untuk humat bahan baku gerabah. Harga ini jauh lebih
murah jika dibanding harga tanah liat bercampur pasir.
Syam juga mengembangkan bisnis ini untuk membuat genteng dan batako yang
lebih kuat. Dari sinilah bisnis tim Ferumnesia terus berkembang selain
menjual bahan baku. Pundi- pundi emas itu pun berhasil ia cetak dari
sebuah kotoran sapi yang menjadi bahan baku gerabah. Tentu saja setelah
gerabah hasil produksinya itu dijual dan di-uang-kan setelah itu
dirupakan emas batangan. Bukan mencetak emas dari kotoran sapi he he he.
Yang perlu digaris bawahi, gerabah yang dihasilkan tidak boleh gerabah
yang digunakan untuk menaruh makanan seperti membuat piring, gelas,
kendi, dan lain-lain karena bahan dasarnya yang dari kotoran sapi.
Takutnya akan menjadikan tak higienis ucapnya menjelaskan. Gerabah yang
bisa dibuat dari kotoran sapi hany untuk produk seperti genting, batako,
dekomposter dan yang non- makanan pokoknya. Syam langsung saja
mematenkan hasil temuannya ini namun ia mempersilahkan pihak lain yang
mau memanfaatkan temuan ilmiahnya ini asal minta izin terlebih dahulu
agar tak menjadi masalah dikemudian hari.
Sumber
Thanks for reading:
Manfaatkan Kotoran Sapi Menjadi Bisnis Jutaan Rupiah