Kisah Unik Kopi, Dulu Diharamkan- Mungkin Anda membaca tulisan ini sambil menyeruput secangkir kopi,
menikmati aromanya yang menyengat, menggugah rasa segar datang
lagi...kemudian terkejut (atau malah tertawa) saat mengetahui kopi di
masa lalu adalah barang ilegal, tak beda dengan ganja.
Ketakutan pada kopi sempat terjadi di kalangan agama, hingga pemerintah di beberapa negara. Beginilah kisahnya.

Menurut folklor, kopi pertama kali ditemukan seorang penggembala di
daerah Abyssinia - sekarang Etiopia. Penggembala bernama Kaldi melihat
kambing-kambingnya kegirangan setelah memakan buah menyerupai beri
merah yang belum pernah dia lihat. Dia pun mencicipinya dan merasakan
efek rasa segar. Ketika dia memberi tahu orang-orang, popularitas buah
ini segera meroket di daerah tersebut.
Rupanya saat para agamawan
mendengar hal tersebut, mereka curiga dengan efek buah tersebut. Apakah
ini termasuk khamar yang memabukkan? Pengaruh pada tubuh karena kopi
pun dianggap sebagai “pekerjaan setan”.
Tak diketahui berapa lama
kondisi ini berlangsung, hingga akhirnya setelah tahu buah itu bisa
membantu mereka begadang untuk melakukan ibadah, buah yang di kemudian
hari dikenal sebagai kopi ini legal dikonsumsi.
Soal fatwa haram
juga kemudian berlaku di kalangan agama Kristen. Sekitar tahun 1600,
Sekelompok pemuka gereja mendatangi Paus Clement VIII untuk memintanya
memfatwa haram kopi, menggambarkan betapa asingnya mereka terhadap kopi.
Sir George Sandys, penyair asal Inggris pernah menulis hal ini
dalam catatannya di tahun 1610. Sandys menggambarkan orang-orang Turki
bisa ngobrol hampir sepanjang hari sambil menyeruput minuman yang
digambarkan sebagai “sehitam jelaga, dan rasanya tak biasa”. Dituliskan
pula, “sebagaimana mereka (orang-orang Turki) bilang, membuat plong
pencernaan dan menyegarkan tubuh.”
Dari Eropa lalu luas mendunia
Baru
pada 1615 orang-orang Eropa secara formal berkenalan dengan kopi. Saat
itu para pedagang dari Venezia, Italia, membawa pulang kopi dari daerah
Levant, yang kini dikenal sebagai area Timur Tengah, meliputi Israel,
Yordania, Libanon, dan Syiria.
Setahun kemudian, sebagaimana ditulis pemilik situs gallacoffee.co.uk, James Grierson, dalam artikel “History of Coffee: Part III - Colonisation of Coffee”,
giliran orang Belanda yang membawa kopi dari daerah Adan, Yaman, lalu
membudidayakannya, dari Ceylon (sekarang Sri Lanka) hingga ke Nusantara.
Belanda akhirnya memetik hasil. Mereka memonopoli industri kopi dunia,
bahkan bisa menentukan harga.
Puncaknya, pada 1700-an, kopi produksi Jawa bersaing dengan kopi asal Mocha,Yaman, sebagai produk kopi paling populer di dunia.
Prancis, Jerman, Inggris ketakutan
Awalnya
orang-orang Eropa memperlakukan kopi sebagai bahan medis yang
memberikan efek positif buat tubuh. Harganya mahal. Umumnya dikonsumsi
masyarakat kelas atas.
Pada 1650-an, ketika penjaja minuman
lemon di Italia mengikutsertakan kopi sebagai barang jualannya,
sementara kedai-kedai kopi di Inggris bermunculan, minuman ini mulai
menemukan dimensi sosialnya; dikonsumsi sembari berbincang-bincang.

Saat kopi mulai menyebar ke negara-negara besar Eropa, cerita lama
berulang kembali. Muncul pihak-pihak yang menentangnya. Menurut Linda
Civitello dalam Cuisine and Culture: A History of Food and People,
pada 1679, dokter-dokter dari Prancis membuat catatan buruk tentang
kopi. Dikatakannya, “...dengan penuh kengerian bahwa kopi membuat orang
tak lagi doyan wine.” Serangan ini disusul oleh seorang dokter muda yang
menganggap kopi bisa mengakibatkan keletihan, menimbulkan hal-hal buruk
pada otak manusia, menggerogoti fungsi tubuh, serta biang keladi
impotensi.
Pihak yang membela pun segera bersuara. Seorang
dokter, juga asal Prancis, Philippe Sylvestre Dufour, menerbitkan buku
yang menilai positif minuman eksotik ini. Lalu pada 1696, seorang dokter
Prancis juga mengatakan kopi baik untuk tubuh dan menyegarkan kulit.
Bagaimanapun,
kopi telah merasuk ke berbagai kalangan dan menemukan dimensi
sosialnya. Menurut Linda Civitello, di masa tersebut untuk kali pertama
orang (Eropa) memiliki alasan untuk berkumpul di ruang publik tanpa
melibatkan alkohol. Kegiatan ini pun berkembang menjadi rutinitas sosial
yang bersifat politis.
Sebagaimana ditulis situs The Economist pada 7 Juli 2011, “Back to the coffee house”,
pada era tersebut konsep media massa belum lagi dikenal. Berita
tersebar dari mulut-ke mulut di kedai-kedai kopi, melalui proses
dialogis.
Para penguasa yang deg-degan, karena khawatir hal-hal
politik dibincangkan orang di kedai-kedai kopi, mulai ambil kuda-kuda.
Kekhawatiran itu tak berlebihan.
Sejarawan Prancis, Michelet, dikutip Mark Pendergrast dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How it Transformed Our World,
menggambarkan penemuan kopi sebagai revolusi yang menguntungkan dan
mampu memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru, bahkan memodifikasi
temperamen manusia. Ide-ide yang beredar dalam diskusi di kedai-kedai
kopi pada akhirnya terakumulasi dalam peristiwa Revolusi Prancis.
Di
Jerman, popularitas kopi mengganggu penguasanya, Frederick the Great.
Pada 1777, dia mengeluarkan manifesto yang mendukung minuman tradisional
Jerman, bir: “Menjijikkan melihat meningkatnya kuantitas kopi yang
dikonsumsi rakyatku, dan implikasinya, jumlah uang yang keluar dari
negara kita. Rakyatku harus minum bir. Sejak nenek moyang, kemuliaan
kita dibesarkan oleh bir.”
Hal serupa sempat terjadi di Prancis
ketika kopi mulai menyaingi wine. Sementara di Inggris, King George II
memusuhi kopi lantaran orang-orang yang berkumpul di kedai-kedai kopi
kerap mengolok-olok dirinya.
 |
| www.npr.org |
Namun tak ada perlawanan paling keras terhadap eksistensi kedai kopi di
London ketimbang Women’s Petition tahun 1674, yang memrotes terbuangnya
waktu para lelaki di kedai kopi, serta tak memungkinkannya perempuan
berkunjung ke kedai kopi, sebagaimana di Prancis.
Lalu, pada 29
Desember 1675 Raja Inggris Charles II mengeluarkan pernyataan tentang
Pelarangan Kedai Kopi, dengan alasan membuat orang mengabaikan
tanggungjawab sosial serta mengganggu stabilitas kerajaan. Suara-suara
protes pun bermunculan di London. Klimaksnya, dua hari sebelum aturan
itu berlaku, raja mengundurkan diri.
Kisah unik dari Austria
Lain
lagi cerita dari Wina, Austria. Pada bulan Juli 1683, pasukan Turki
yang dipukul mundur meninggalkan beragam barang, termasuk lima ratus
karung besar berisi kacang aneh, yang dianggap para tentara sebagai
makanan unta. Karena ternyata unta-unta tak doyan, mereka
lemparkanratusan karung tersebut ke api. Kolschitzky, seorang tentara
yang pernah tinggal di Jazira Arab, terbangun oleh aroma kopi terbakar
tersebut.
 |
| Tempat ngopi di Wina / cooltownstudios.com |
“Demi Maria Yang Suci!” teriak Kolschitzky. “Yang kalian bakar itu
kopi! Kalau kalian tak tahu gunanya, berikan padaku.” Maka dengan bekal
tersebut ia membuka kedai kopi yang termasuk generasi awal di Wina.
Beberapa dekade kemudian, kopi mewarnai kehidupan intelektual di kota
tersebut.
Sekarang, kopi sudah jadi minuman favorit di seluruh
dunia. Bagi Anda penggila kopi, berbahagialah karena minuman 'hitam
seperti jelaga' di cangkir Anda kini bisa dinikmati sepuas hati, tanpa
takut dicaci, apalagi masuk bui. Salam kopi!
Sumber: